| Gejala Hancurnya Perkawinan |
|
|
|
| Ditulis oleh Administrator |
| Kamis, 13 Maret 2008 01:59 |
|
Barbara De Angelis, seorang pakar dalam hubungan dan komunikasi, mengatakan bahwa karakter seseorang yang buruklah yang menjadi faktor utama terbentuknya keretakan hubungan dalam rumah tangga. Keengganan untuk melakukan introspeksi secara dini menyebabkan menumpuknya permasalahan yang lambat laun membentuk bom waktu yang dapat meledak setiap saat. Akhirnya, perceraianlah yang sering menjadi pilihan. Ada beberapa cara mengukur tahap perkawinan diambang kehancuran, tolak ukur ini merupakan ciri awal memasuki episode menuju ke titik nol, saat dimana mimpi buruk mulai menjadi nyata. Ketika konflik rumah tangga terjadi, setiap orang berusaha menciptakan alasan tertentu untuk menghindari pertemuan keluarga. Pasangan ini biasanya menganggap konflik tersebut dapat menjadi baik dengan sendirinya. Sikap yang acuh tersebut mengambarkan bentuk yang kurang peduli akan hubungan itu sendiri. Ego dan ingin menang sendiri juga membuat pasangan enggan untuk memulai membicarakan masalah tersebut. Semakin kurangnya komunikasi diantara pasangan. Berkurangnya waktu yang dimiliki oleh keluarga otomatis akan membuat berkurangnya komunikasi. Pada tahap buruk, timbulnya keengganan untuk saling memulai berbicara, permasalahan yang muncul kerap menjadi tabu untuk dibahas oleh kedua belah pihak. Akibatnya setiap pasangan saling berdiam dan menjaga jarak dan semakin kaku. Pudarnya romantisme dalam keluarga. Romantisme merupakan hal yang penting dalam hubungan cinta-kasih setiap pasangan yang menikah. Buruknya tahap ini dimulai ketika pasangan enggan untuk berbicara setelah selesai berhubungan intim. Pasangan langsung membalikkan badan, membelakangi pasangannya lalu tidur. Komunikasi yang dilakukan oleh pasangan bercinta selesai berhubungan intim akan meningkatkan romantisme dan kualitas dari hubungan tersebut. Hilangnya romantisme juga ditandai dengan berkurangnya aktivitas keluarga yang biasanya sering dilakukan secara bersama-sama. Menurunnya frekuensi dan intensitas bercinta pada pasangan menikah secara drastis. Menunjukkan berkurangnya aktivitas yang menyangkut pemuasan kebutuhan seksual setiap pasangan. Setiap pasangan mulai menghibur diri mereka dengan cara masing-masing. Setiap pasangan memilih cara masing-masing untuk menghibur diri mereka sendiri. Kesibukan tersebut juga digunakan sebagai alasan untuk menghindar dari keributan yang terus terjadi dirumah. Sehingga pasangan merasa perlunya melakukan aktivitas lain diluar rumah. Berkurangnya perhatian keluarga yang diberikan kepada anak juga menjadi tanda-tanda awal bukan main buruknya hubungan antar pasangan. Dampaknya, banyak aktivitas dan waktu yang dihabiskan anak tanpa perhatian orangtua. Meningkatnya pertengkaran-pertengkaran yang terus terjadi dalam rumah tangga. Seakan tidak pernah habis, setiap pasangan mulai mencari kelemahan pasangannya untuk digunakan sebagai penyerangan karakter. Pasangan mulai berbicara dengan intonasi tinggi dan ingin didengarkan oleh pasangannya. Pada tahap selanjutnya, kadang ditandai dengan kekerasan secara fisik. (Sumber: perempuan.com) |






